Apa Itu Toxic Positivity? Ternyata Mempengaruhi Pola Pikir - Lifestyle ZIGI.ID
Logo
Ilustrasi
lifestyle
Ilustrasi
Photo: Pexels
Ilustrasi

ZIGI – Kita seringkali mendengar anjuran untuk berpikir positif setiap saat. Pola pikir positif memang sangat baik diterapkan dalam kehidupan sehari hari-hari sebab mampu membuat seseorang selalu merasa optimis dan semangat. Hanya saja, jika dilakukan berlebihan justru akan memunculkan toxic positivity.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, memiliki sikap positif yang berlebihan justru tidak baik untuk kesehatan tubuh baik secara mental atau pun fisik. Seperti apa penjelasan selengkapnya? Baca artikel di bawah ini sampai habis ya guys!

Apa Itu Toxic Positivity?

image
Photo : Pexels

Menurut Dr. Jaime Zuckerman, psikolog klinis di Pennsylvania dari healthline, toxic positivity merupakan sebuah asumsi yang dibuat diri sendiri ataupun orang lain yang menyatakan bahwa meski seseorang mengalami penderitaan emosional atau sedang dalam situasi sulit, mereka tetap harus berpikir positif.

Sikap toxic positivity bisa timbul mulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, sahabat, ataupun kekasih. Toxic positivity mulai muncul saat keadaanmu sedang buruk, tetapi orang terdekat justru mengatakan untuk selalu berpikir positif, alih-alih mendengarkan kesedihanmu.

Apabila seseorang mengalami gejala toxic positivity, maka pandangannya mengenai emosi akan menjadi sangat buruk. Mereka akan berusaha meminimalkan emosi dan memunculkan kebahagiaan yang tidak mereka rasakan. 

Bahaya Toxic Positivity

image
Photo : Pexels

Terlebih lagi saat pandemi Covid-19 seperti ini, toxic positivity seringkali dijadikan sebagai tameng untuk terus berjalan maju, meskipun merasakan kelelahan dan kesepian yang mendalam.

Dr. Jaime Zuckerman sendiri mengungkap bahaya besar dari sikap toxic positivity yang sering tidak kita sadari. Seseorang yang mengalami toxic positivity akan mengalami peningkatan kecemasan hingga menimbulkan depresi bahkan bisa membuat kesehatan mental memburuk.

Hal ini bisa terjadi, karena seseorang yang mengalami toxic positivity terus melakukan tekanan pada dirinya untuk berpikir positif di situasi terburuk pun. Kondisi tubuh yang selalu ditekan untuk mengeluarkan emosi inilah yang dapat menyebabkan berbagai masalah psikologis, mulai dari gangguan tidur, kesedihan berkepanjangan, atau bahkan memunculkan kecemasan.

Bagaimana Cara Menghindari Toxic Positivity?

image
Photo : Pexels

Di tengah situasi pandemi Covid-19, banyak orang ditekan untuk selalu berpikir positif akan keadaan. Kita semua sedang melawan perasaan cemas, kesepian, serta kesakitan dengan tameng pola pikir positif. Bagi sebagian orang, pesan-pesan di media sosial untuk selalu produktif mampu membuat mereka melupakan kecemasan. Tapi tidak dengan sebagian lainnya, kata-kata penyemangat tersebut justru membuat mereka semakin cemas dan panik. 

Jangan mengabaikan emosi. Jika kamu sedang merasa sedih, ungkapkan. Jika kamu merasa kesal, ungkapkan. Jangan berusaha menutupi perasaanmu dengan bersikap positif, tetapi malah membuat ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

Cobalah menuliskan apa yang kamu rasakan bila tidak ada yang mendengar. Sebuah penelitian di UCLA mengungkap bahwa menuliskan perasaan dengan kata-kata dapat mengurangi beban yang kita rasakan.

Hormati dan dengarkan perasaan orang lain. Tidak hanya kamu, orang lain pun berhak untuk marah, sedih, ataupun kecewa. Jangan mempermalukan perasaan mereka, apalagi menyamakannya denganmu. Penting untuk selalu kamu ingat bahwa orang lain mungkin tidak menyelesaikan masalah sama sepertimu. Karena mereka dan kamu itu berbeda.

Merasa tidak baik-baik saja itu manusiawi. Hal penting yang perlu kamu ingat, bahwa merasa lelah, sedih, kesal, ataupun kecewa adalah hal yang wajar. Semua orang mengalami hal itu dan tidak apa-apa untuk beristirahat atau menangis sebentar.

Dan terakhir, bersikap positif. Jangan menuntut dirimu untuk selalu produktif dengan hal-hal yang membuatmu kesulitan. Cobalah dengan lakukan hal kecil dan kembangkan apa yang kamu kuasai dan jalani sampai kamu merasa lebih baik. Itulah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menghindari toxic positivity, agar kesehatan mental dan pikiran tetap terjaga meski di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang.

  • Editor: Yasmin Karnita
Recommended

Demi Kesehatan Mental, Tom Holland Putuskan Rehat dari Medsos

  • 15 Agustus 2022, 12:34 WIB
Pada Minggu, 14 Agustus 2022, Tom Holland mengumumkan dirinya rehat dari Instagram dan Twitter untuk beberapa waktu ke depan.

Link dan Cara Main Tes Usia Mental, Viral di Twitter

  • 11 Juli 2022, 16:26 WIB
Link dan cara memainkan tes usia mental yang lagi viral di Twitter, untuk mengetahui usia mental kamu yang sebenarnya.

5 Artis Indonesia Mengidap Gangguan Mental Bipolar

  • 11 Mei 2022, 11:05 WIB
Sederet artis Tanah Air yang didiagnoasa mengidap gangguan mental bipolar, mulai dari Marshanda, Awkarin hingga Medina Zein.

Link Tes Kesehatan Mental Via Google Form Viral di TikTok

  • 27 April 2022, 13:09 WIB
Kini kalian dapat mengetahui kondisi psikis, cukup mengisi Google Form untuk melakukan tes kesehatan mental, viral di TikTok.

Demi Kesehatan Mental, Andrew Garfield Enggan Punya Media Sosial

  • 16 Maret 2022, 17:07 WIB
Andrew Garfield menjelaskan bahwa dirinya tidak menggunakan media sosial demi menjaga kesehatan mental dan privasi kehidupannya

6 Layanan Konsultasi Gratis dengan Psikolog untuk Atasi Depresi

  • 23 Februari 2022, 20:00 WIB
Berikut 6 layanan yang memberikan konsultasi gratis bagi yang tengah mengalami masalah gangguan mental seperti depresi
The Latest
Sportel Bali

Mengenal Sportel Bali 2023 yang Akan Digelar 23-24 Februari

  • 31 Januari 2023, 10:45 WIB
Nessie Judge

4 Tips Belajar Bahasa Inggris dengan Mudah Ala Nessie Judge

  • 29 Januari 2023, 08:00 WIB
Minuman untuk mengecilkan perut buncit

6 Jenis Minuman untuk Mengecilkan Perut Buncit, Termasuk Teh Hijau

  • 28 Januari 2023, 12:00 WIB
Gua Sha

5 Manfaat Gua Sha, Mengurangi Kerutan hingga Menghilangkan Pusing

  • 27 Januari 2023, 07:00 WIB
Sheila On 7

Kejutan Konser Sheila On 7 di Jakarta, Ada Band Cokelat dan Perunggu

  • 26 Januari 2023, 13:29 WIB
INDEKS